Sepenggal Kalimat Pengingat untuk Saudaraku

Teringat akan potongan sebuah ayat di Al Qur’an :

“Yaa ayyuhalladziina amanu quu anfusakum wa ahlikum naaraa….”

(Q.S. At Tahrim : 6)

Yang atinya “Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka….”

 

Secara pengertian, seolah tampak melekat “kewajiban seorang ayah/kapala keluarga untuk menjaga dirinya dan keluarganya dari api neraka” pada potongan ayat di atas

 

Yaa…memang tidak bisa dipungkiri pengertian itu memang benar. Ayah sebagai kepala rumah tangga memang berkewajiban mendidik istri dan anak-anaknya dalam mengamalkan  islam secara kaffah. Ayah berhak memukul anak ketika anaknya yang berumur 10 tahun tidak mau mengerjakan sholat, dan masih banyak lagi yang lainnya. Kelak diakhirat nanti ﷲ SWT akan meminta pertanggungjawaban akan semua itu pada seorang ayah.

 

Tapi mari coba kita merenung sejenak………

Ayah/ orang tua adalah madrasah pertama bagi seorang anak untuk mengenal dunia. Anak dititipkan ﷲ SWT kepada orang tua untuk dijaga dan kelak akan diminta pertanggungjawabannya.

Akan tetapi, hayy… kalian yang sekarang masih menyandang status sebagai anak, jangan merasa terlepas dari sunnatullah itu. Sadarilah kelak kau juga akan menjadi orang tua bagi anak-anakmu.

 

Terlepas dari masa depan tersebut yang masih belum dialami, sekarangpun, dengan status sebagai “anak”  sebenarnya anak juga berkewajiban untuk “membantu orang tua memikul kewajiban sebagaimana tercantum dalam Q.S. At Tahrim : 6”.

Mungkin terselip sedikit tanya, bagaimana bisa?? Aku masih kecil, belum banyak ilmu agama, belum banyak pengalaman tentang hidup…

 

Tentu saja BISA

Sebuah keluarga dibangun atas dasar dan tujuan yang sama, sebagaimana sebuah kapal yang berlayar menuju ke suatu tempat tujuan. Agar kapal tersebut bisa sampai dengan selamat maka harus ada nahkoda yang andal dan anak buah kapal yang mau diajak bekerja sama. Begitulah ibaratnya sebuah keluarga

Keluarga yang mendasarkan tujuan hidupnya pada JannahNya, maka ayah sebagai nahkoda harus mengarahkan menuju jalan yang benar. Begitu pula ibu dan anak sebagai anak buah kapal harus taat kepada nahkoda dan mau bekerja sama untuk menuju tujuan bersama-sama

 

Tampak jelas bukan??!

Keluarga yang ingin mencapai tujuan baik, maka seluruh elemen dalam keluarga tersebut haruslah baik. Tidak bisa yang berjalan menuju kebaikan hanya orang tua saja sedangkan anak-anak yang merasa umurnya masih muda berjalan seenaknya di muka bumi. Orang tua yang seumur hidupnya rajin ibadah, namun anaknya justru berbuat hal-hal yang melenceng dari aturan agama, maka orang tua tersebut jalannya ke jannah juga akan tersendat. Kenapa bisa? Karena saat menimbang amalan di yaumul akhir, ﷲ SWT akan meminta pertanggungjawaban orang tua terhadap anak-anak yang dittipkan pada mereka semasa di dunia. Meski amalan ibadahnya bagus tetapi dia melalaikan anak-anak di bawah tanggunannya maka masuk ke jannah hanyalah sebatas “impian muluk” bagi orang tua. Atau suatu keadaan lain ketika orang tua sudah ahli ibadah, sudah mengarahkan anaknya ke jalan yang benar, namun anak malah berontak dan tidak patuh. Dengan suatu pikiran sesaat yang sempit bahwa orang tuanya kolot, tidak bisa mengikuti perkembangan zaman, dan lain sebagainya. Dalam kondisi yang sedemikian itu, maka jannah juga serasa semakin jauh untuk direngkuh. Wallahu a’lam…

 

Pertanyaannya sekarang adalah “tegakah melihat orang tua kita yang seumur hidupnya rajin sholat, qiyamul lail, puasa sunnah, tilawah dan lain sebagainya tersendat jalannya untuk masuk ke jannah hanya karena ulah tingkah kita sebagai anak mereka??”

Secara pribadi saya katakan, sungguh saya tak rela bila hal tersebut menimpa ibu dan ayah….!!!!

Na’udzubillah min dzalik…

 

Lalu bagaimana? Apa yang harus dilakukan sekarang??

Bekerjasamalah untuk bersama-sama meraih jannahNya sesuai peran masing-masing dalam keluarga dalam tindakan konkrit.

Orang tua harus menjalankan kewajibannya dengan bijaksana, menjaga diri dan keluarganya dari api neraka

Di lain pihak, Anak harus menyadari ketika orang tuanya memberikan nasehat, dan mengatur kehidupanmu meskipun kalian sudah cukup dewasa, terimalah itu karena itu memang kewajiban yang dibebankan ﷲ SWT kepada orang tua.

Setelah itu, anak-anak harus mau menjalankan syariat agama islam dalam kehidupan sehari-hari dengan keikhlasan dan kesadaran hati. Dengan tujuan “membantu dirinya sendiri dan anggota keluarganya yang lain” agar bisa bersama-sama meraih jannahNya. Bukanlah itu cukup adil?

 

Sekarang mari bermuhasabah, kenakalan apa yang masih kita perbuat sampai saat ini. Pebuatan yang melenceng dari syariat/ aturan agama islam. Apa kita masih malas ketika diingatkan mengerjakan solat, masih suka berbohong, bergaul yang berlebihan dengan lawan jenis yang bukan mahram, marah ketika diingakan untuk tilawah, membentak orang tua dan lain sebagainya. Tentu diri kita sendiri yang mengetahuinya.

 

Berharap tulisan singkat ini bisa jadi bahan renungan dan membuka hati yang selama ini masih tertutup dengan keangkuhan/ keegoisan diri dan hawa nafsu yang membelenggu untuk menjadi pribadi muslim yang baik dan membaikkan keluarga kita, insyaAllah…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s